Thumb

21Oct, 2025

Dua Siswi SMA Negeri 1 Yogyakarta Ciptakan Aplikasi Bahasa Isyarat: Terobosan Inklusif dari Generasi Muda

Yogyakarta, 21 Oktober 2025, Di tengah tantangan komunikasi antara teman dengar dan teman tuli, dua siswi inspiratif dari SMA Negeri 1 Yogyakarta, Grace Natalia Putri Sinulingga dan Harisa Alya Prawitowati, menghadirkan sebuah inovasi luar biasa: SYNDO (Sahabat BISINDO). Sebuah media pembelajaran interaktif berbasis aplikasi dan kartu fisik yang mengajarkan bahasa isyarat BISINDO secara menyenangkan, inklusif, dan edukatif.

Foto Bersama Pelajar SD Negeri 2 Kadipiro

 

Dengan latar belakang keprihatinan atas minimnya media pembelajaran bahasa isyarat yang mudah dipahami dan menarik bagi anak-anak, Grace dan Alya memutuskan untuk menciptakan SYNDO. Tidak sekadar aplikasi biasa, SYNDO hadir dalam bentuk game hybrid yang memadukan pembelajaran bahasa isyarat, budaya lokal, dan fitur-fitur interaktif yang merupakan sebuah langkah berani yang menunjukkan bahwa empati sosial dapat tumbuh kuat di usia muda.

“Kami ingin menjembatani komunikasi antara teman tuli dan teman dengar, mulai dari anak-anak usia dini. SYNDO kami rancang agar menyenangkan, inklusif, dan tidak membosankan,” ungkap Alya, salah satu penggagas SYNDO.

Berbekal semangat untuk mengubah cara belajar menjadi lebih ramah anak dan inklusif, mereka mengembangkan SYNDO sebagai alat bantu belajar BISINDO yang dapat digunakan oleh masyarakat umum, baik teman tuli maupun teman dengar.

Tak hanya itu, SYNDO juga menyisipkan unsur kebudayaan Nusantara di dalam permainan, menjadikannya sarana literasi budaya sekaligus pembelajaran komunikasi non-verbal. Dalam media pembelajaran SYNDO, pengguna diajak menghafal, mengevaluasi hasil pembelajaran, dan menjelajahi dunia permainan sambil mempelajari kosakata bahasa isyarat dalam konteks kehidupan sehari-hari serta wisata budaya.

“Kami percaya bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan jauh lebih berdampak. Maka kami menyatukan teknologi, budaya, dan permainan dalam satu media,” tambah Grace.

Melalui pendekatan inklusif ini, SYNDO tidak hanya membantu teman tuli belajar dan berkomunikasi, tetapi juga mendorong teman dengar untuk memahami dan menghargai keberagaman. Media pembelajaran ini juga telah diuji coba bersama siswa berkebutuhan khusus, guru SLB, serta komunitas difabel di Yogyakarta, dan mendapat respons yang sangat positif. Grace dan Alya saat ini sedang membuka jalur kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah agar media ini bisa menjangkau lebih banyak pengguna di berbagai wilayah Indonesia.

Foto Bersama Pelajar SLB Negeri 1 Bantul

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi bisa digunakan bukan hanya untuk hiburan, tapi juga sebagai jembatan kemanusiaan,” tutup mereka.

Lewat karya ini, Harisa dan Grace membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk berkarya dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Di tangan generasi muda seperti mereka, masa depan inklusi dan pendidikan Indonesia tampak semakin cerah.